Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi adalah sosok dengan kombinasi yang sangat langka di Indonesia. Dia adalah politikus, birokrat, penghafal Al-Qur’an, ahli tafsir, ulama besar, plus seorang cyclist (pengendara sepeda), yang sangat serius. Jatuh berkali-kali justru membuat cintanya kepada sepeda semakin kuat.

Bekas luka itu masih menggurat di pundak sebelah kanan Muhammad Zainul Majdi. Tahun lalu, gubernur Nusa Tenggara Barat itu terempas keras dan cukup fatal ketika bersepeda di wilayah Sekotong, Lombok Barat.

Pejabat yang lebih kondang dengan panggilan Tuan Guru Bajang (TGB) tersebut memang menempuh rute yang menantang. Dia naik ke Sekotong atas, lantas melibas turunan yang luar biasa curam dan berkelok-kelok.

Saat itu, TGB salah memperhitungkan situasi. Ketika mengetahui di depannya ada jalan yang agak rusak, dalam kondisi melaju sangat cepat, dia menekan rem depan dengan keras. Hasilnya, pejabat berusia 45 tahun itu terpelanting. Bahu kanannya robek menghajar aspal. ’’Saya agak grogi. Saya salah tekan rem, harusnya saya mengerem belakang pelan-pelan,’’ katanya.

Untung saja, salah seorang teman bersepedanya adalah seorang dokter. Untung dobel, karena dia adalah dokter spesialis bedah. Secara insting, sang dokter mengangkut tubuh TGB, memberikan pertolongan pertama, lalu langsung menyodorkan pertimbangan apakah luka itu perlu dijahit atau tidak. ’’Syukur tidak perlu dijahit. Dua minggu setelah itu, saya pulih,’’ katanya.

Insiden tersebut sama sekali tidak membuat TGB kapok bersepeda. Justru sebaliknya, dia makin bersemangat dan mencintai olahraga itu. Apalagi, bagi dia, kecelakaan tersebut tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang dialami rekan-rekannya.

’’Kenapa tidak kapok? Karena saya tahu kalau itu salah saya. Jadi itu membuat saya lebih hati-hati. Tidak boleh grogi. Turunan seperti apa, kondisi seperti apa, ya kita harus bisa mengontrol tubuh dan sepeda kita,’’ imbuhnya.

Pekan lalu, Jawa Pos berkesempatan ikut gowes bersama TGB dan 23 orang yang tergabung dalam Lombok Bike Community (LBC) di NTB. Perkumpulan itu terbentuk pada 2014. TGB adalah ketuanya. Hanya dikawal seorang ajudan gubernur dan seorang anggota satpol PP bersepeda motor, kami melintasi rute yang sangat cantik dan variatif dari Pendapa Gubernur NTB di Mataram melintasi lingkar selatan menuju bypass BIL.

Lalu mengarah ke Sweta dan menanjak ke pit stop pertama di Hutan Pusuk yang lebih kondang dengan nama Monkey Forest. Di sana, tanjakannya memiliki kemiringan rata-rata 5–6 persen. Yang tertinggi menembus 12 persen.

TGB adalah seorang cyclist fanatik tanjakan. Terlihat sekali dia konsisten berada di antara rombongan depan. Tidak sampai tercecer jauh di belakang. Jarang pula terlihat dia berdiri di atas sepeda untuk memindahkan beban di lengan dan pundaknya. Untuk seorang pejabat publik yang sangat sibuk, daya tahan TGB memang impresif. ’’Berdiri itu kalau sudah ampun-ampun. Kalau masih bisa duduk, saya akan duduk,’’ ucapnya. ’’Kalau saya ini suka tanjakan karena bisa menguji kesabaran dan determinasi,’’ imbuhnya.

Tidak mau berlama-lama menikmati kacang dan talas rebus di Hutan Pusuk, TGB mengajak para cyclist LBC melanjutkan perjalanan menuju Pantai Pandanan, Lombok Utara. Total, kami menempuh perjalanan sejauh 65 kilometer di jalur aspal yang sangat mulus dengan kecepatan rata-rata 27–29 kilometer per jam.

TGB mengatakan, jalur menuju Mataram–Pusuk–Pantai Pandanan adalah salah satu rute yang disukai. Namun, jalur favoritnya kebalikannya, yakni dari Mataram–Pantai Malimbu–Pusuk. Jadi, pantai dulu, lalu ke gunung. Jaraknya lebih dari 60 kilometer, namun sudah dapat elevasi total sekitar 1.600 meter.

Jika sedang ingin gowes jalur flat, TGB biasanya gowes sejauh 65 kilometer dari pendapa, melewati bypass, menuju bandara. Kalau lagi mood, TGB dan cyclist LBC melaju ke wilayah Sekotong, Batu Jangkih, ke Pantai Selong Belanak. Jaraknya sekitar 100 kilometer. ’’Itu kawasan yang sangat-sangat indah,’’ katanya.

Dan jika ingin menanjak dengan ekstrem, TGB mengajak rekan-rekannya menanjak ke Sembalun yang berada di kaki Gunung Rinjani. Dari Mataram menuju Sembalun, jaraknya sekitar 100 kilometer dengan total elevasi 2.800 sampai 3.000 meter. Biasanya itu dilakukan sekali dalam enam bulan.

’’Sepeda itu butuh konsentrasi. Kalau ada sesuatu yang mengganggu pikiran, lebih baik jangan menempuh rute yang berbahaya atau yang derajat kesulitannya tinggi. Jadi, olahraga ini memang mengajarkan kita untuk fokus. Fokus betul,’’ ujarnya.

Ketua Koni NTB Andy Hadianto yang ikut gowes mengatakan bahwa TGB adalah seorang cyclist yang impresif. Dia kuat di tanjakan. Secara kasatmata, imbuh Andy, TGB memiliki VO2 max yang tinggi.

’’Saya kira beliau adalah gubernur terkuat di Indonesia. Saya jamin, bisa diadu lah,’’ kata Andy. ’’Ya kuat nanjak, ya kuat ngaji,’’ tambahnya, lantas tergelak.

Penulis, Ahmad Ainur Rohman, NTB
Sumber, https://www.jawapos.com/read/2017/10/02/160384/bersepeda-sehari-bersama-gubernur-ntb-muhammad-zainul-majdi

[jetpack-related-posts]

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Pin It on Pinterest

Shares
Share This