Catatan Digital Bootcamp GenBi NTB 2020 bersama TGB HM Zainul Majdi (Bagian 1)

⁣⁣Kepemimpinan usia muda bisa diwujudkan. Diantara yang harus dilakukan adalah mulai meningkatkan kapasitas diri. Generasi Baru (GenBi) NTB menggelar digital bootcamp GenBi NTB 2020. Seminar nasional mengambil tema Leadership.


Narasumber dari acara ini adalah Ketua Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) sekaligus Gubernur NTB periode 2008-2013 dan 2013-2018 Dr TGB HM Zainul Majdi. Pemaparan yang runtut berdasar pengalaman petinggi Nahdlatul Wathan ini dijabarkan.


Seminar daring ini mendapat apresiasi dari TGB. Dikatakan, generasi muda memang harus menyiapkan diri menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Bisa jadi lebih berat dibanding generasi sebelumnya. Pengalaman menjadi gubernur dua periode, tidak serta merta bisa menjadi acuan.


“Tantangannya bisa jadi berbeda. Meski begitu, ada esensi yang berlaku universal dan dihadapi dalam setiap kepemimpinan,” katanya Selasa 8 Juli 2020.


Bicara kepemimpinan, sambung TGB, yang selama ini dipahami dan penting untuk dibagi. Pertama, ungkapan dari Rasulullah bermakna universal, kullukum ra’in, setiap kalian adalah pemimpin. Ini menunjukkan siapapun manusia dilengkapi kemampuan untuk menjadi pemimpin. Spektrumnya berbeda-beda, bisa luas dan bisa sempit.


“Tapi, setiap manusia adalah pemimpin. Potensi itu telah disiapkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa,” bebernya.


Cucu Pahlawan Nasional TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid mengurai, anak muda masih memiliki masa depan panjang. Kontribusi kebangsaan dan kemanusiaan masih banyak. Pemuda harus mulai menyadari bisa menjadi pemimpin. Menumbuhkan kepercayaan diri dan keyakinan. Ada ungkapan dalam bahasa Arab fakhidusyai’i ila yukti, yang tak punya sesuatu tentu tak bisa memberikan sesuatu.


“Bagaimana anda mengajak, mempengaruhi orang lain. Anda ketika bicara kepemimpinan harus mempercayai visi yang kita percayai dan perjuangkan,” urainya.


“Bagaimana kita mengajak seseorang untuk sesuatu yang kita sendiri ragukan. Anda harus percaya bahwa kita diberikan potensi,” sambungnya.


Lebih lanjut, Indonesia diberikan keistumewaan bonus demografi. Usia produktif melebihi usia tak produktif. Artinya, ada potensi kepemimpinan dan kepeloporan. Yang utama ada keyakinan diri. Banyak ungkapan yang tak menggambarkan kenyataan dan potensi. Seperti anak muda sumber masalah, generasi muda hedon, generasi muda tak bisa diharapkan. Padahal dalam peradaban dunia, termasuk kemerdekaan di Indonesia bagian signifikan dilaksanakan oleh anak muda.


“Tidak benar anak muda sumber masalah dan tak memiliki energi positif. Menurut saya ini perlu kita koreksi, anda adalah apa yang anda pikirkan,” ujarnya.


Doktor Ahli Tafsir Alquran ini melanjutkan, mengambil dari kitab suci, khususnya di dalam Alquran, tidak pernah lepas dari pembahasan anak muda ke arah positif. Seperti Surat Al Kahfi tentang sekelompok pemuda yang membangun aliansi kebaikan. Berjuang melawan keburukan, hingga akhirnya berhasil.


“Anak muda adalah pionir dan penggerak di masa pembentukan bangsa ini,” kata TGB lagi.


Ketika bicara kemajuan bangsa, lanjut TGB, ketika bicara Indonesia yang paling penting adalah manusia. Sayangnya, sebagian anak muda mengamplifikasi (disebarkan) persepsi yang kurang baik. Ketika membuka media sosial, ada 1001 masalah diposting kemudian dibaca. Ketika bicara energi positif secara kolektif, membaca postingan negatif harus dihilangkan.


“Mari menginisiasi diri dan sahabat dekat, berita negatif dan buruk kita singkirkan dari ruang publik. Isi dengan berita positif yang membangun optimisme,” imbuhnya.


Kedua, kata TGB, ada ungkapan di pesantren innamal ilmu bitta’alim, ilmu itu diperoleh dengan belajar. Segala sesuatu itu dimulai dengan proses. Perjalanan pemimpin bangsa seperti Bung Karno, dari mulai kecil, dewasa, hingga masa pergerakan, dan dibuang ke berbagai tempat menunjukkan kepemimpinan akan sampai pada kualitas setelah melalui proses luar biasa. Tak semua proses menyenangkan.


“Salah seorang anak Bung Karno menulis buku, ayah saya kaya pengetahuan karena membaca. Ini bisa kita lihat dimana tempat beliau diasingkan seperti Ende atau Bengkulu ada berpeti-peti buku,” jelasnya.


Begitu pula dengan Bung Hatta, dari pagi sampai malam hanya ditemani buku. Ada lebih dari 10 ribu buku. Bukti kepemimpinan di Indonesia melalui perjalanan panjang.


“Apa sih yang penting. Dari perjalanan founding father adalah literasi. Seperti pula di NTB TGKH M Zainuddin Abdul Majid, terus belajar adalah mutlak. Pun saat menjadi pemimpin harus belajar,” urainya.


Saat menjadi gubernur, sambungnya, sehari-hari tak sekedar hanya memberi intruksi. Tetap setiap hari menyisihkan waktu untuk membaca. Meluangkan waktu membaca mengenai NTB, mulai masalah, indikator daerah, sejarah daerah, budaya yang diwariskan para orang tua, memiliki potensi mengembangkan daerah.


“Saya terus belajar, meliterasikan diri itu cara membangun leadership,” ceritanya.


Leadership, diakuinya ada yang dari lahir, ada juga dihasilkan dari pembelajaran terus-menerus. Diantaranya, dari literasi akan lahir kualitas.


“Kepemimpinan bukan seperti orang bikin bakso, malam dibuat kemudian siang disajikan. Kepemimpinan itu melalui proses panjang,” kata peraih Bintang Mahaputra Utama ini.


Di era kemajuan teknologi, pemuda saat ini tak harus membaca melalui buku yang dicetak. Informasi bisa didapat lewat internet dengan 1001 pengetahuan.

“Tinggal bagaimana informasi itu dimanfaatkan positif,” tegasnya. (feb/bersambung)

Sumber, http://dakwahtuangurubajang.com/pemuda-harus-meningkatkan-minat-literasi/

Pin It on Pinterest

Shares
Share This