Rabu (7/8), video conference #NgajiKitab Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) bersama al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz, serta sejumlah ahli ilmu melalui tradisi halaqoh. Meskipun sistem halaqohpaling tradisional, kini hadir dalam versi 4.0. Habib Umar selaku guru utama berada di Hadramaut, Yaman, berhalaqoh dengan para murid, di Lantai 8 gedung PBNU, disiarkan live via media sosial, bisa diakses dari seluruh penjuru dunia. Suasana hybrida yang dulu tidak pernah dibayangkan. Sudah 17 kali halaqoh bulanan ini digelar.

Sebelum halaqoh Habib Umar, ada #NgajiKitab karya Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari, “Risalah Ahlussunah wal-Jamaah”. Tuan Guru Bajang (TGB) Dr HM Zainul Majdi, salah satu yang dihadirkan memberikan pandangan. Berikut ini sebagian potret dari pengajian tersebut, dengan sejumlah beberapa modifikasi penulis untuk mempertajam per-topik.

Aswaja dan Tertib dalam Agama

Kitab Risalah Ahlussunah wal-Jamaah, seperti kitab-kitab khas pesantren, berbahasa Arab, ditulis tanpa tanda baca. Tipis, hanya 19 halaman. Tahun ini, kembali diterbitkan Lembaga Ta’lif wan Nasyr PBNU.

Bagi TGB, risalah tipis ini justru menunjukkan penguasaan paripurna (mutamakkin). Hal yang sangat luas, diperas dan disajikan hanya yang penting dan perlu tentang Aswaja. 

Mulai pengertian Aswaja, hingga beragam pemikiran ke-islaman. Termasuk kitab al-Farq baina al-Firaq, karya Syeikh Abu Manshur al-Baghdadi. Pandangan al’Asariyah Maturidiyahdijelaskan dengan jernih, sebagai haluan generasi.

Ahlussunnah, jalan yang diridhoi, ditempuh rasulullah SAW, sahabat dan seterusnya. Pengertian jamaah juga jelas, bagaimana para ulama terdahulu, bukan sembarang orang, yang penting dia Islam sebagai panutan. Namun, seperti penjelasan Imam Syatibi, al-Jamaah adalah al-Aimmah atau kelompok ulama, para muhaddist, seperti Imam Bukhori, imam ahli ijtihad lainnya. 

“Deskripsi Hadratusysyaikh jelas, harus kita jelaskan ke generasi kita, tidak boleh ada kesamaran,” kata TGB.

Kitab ini juga menegaskan agar menghargai dan mengikuti mazhab yang muktabar,termasuk saat menghadapi hal sangat pelik. Esensi akan lebih mudah dipahami, dekat dengan akal budi, sehingga lebih tepat menyelesaikan problematika secara efesien. Ini, membalik persepsi yang menganggap bermazhab menyulitkan diri. Justru, bermazhab mengajarkan beragama lebih tertib. Mazhab Syafi’i sangat kuat meletakkan tertib, dalam beribadah, ditempatkan jadi salah satu rukun.

Saat ini, ketika arus agama naik, sedang kuat-kuatnya. Hampir di setiap sudut ada orang yang ingin mengaji, ingin tahu Islam. Orang yang mengerti diam saja, sehingga banyak respon yang mengisinya, justru orang yang tidak mengerti, setengah mengerti, dan salah mengerti. Kemudian berbagi ketidak-mengertian dan setengah mengertiannya. Akibat dari belajar agama tidak pada orang/guru yang tertib. Akhirnya, panjang pendek celana, soal jenggot jadi bab panjang. 

Fardhu dibelakangi, yang kamaliyat (tersier) didahulukan, dan addoruriyyat (sesuatu yang penting medesak) dimundurkan.

Berqurban juga demikian, bukan esensi pokok bagaimana berbagi antara sesama yang ditekankan. Potong kuku dan rambut dianggap tidak sah qurban. Padahal, keabsahan, berbeda dengan sesuatu yang ada kekurangan. Potong kuku, ada hadis yang mendukung, tetapi juga ada riwayat lain. Mazhab Syafi’i memandang sebagai sunnah. 

“Itu hanya ahnaf, itu bukan tahrim, itu tanzih biasa saja. Hal kecil sering diperbesar, kok berislam jadi berat betul, gara-gara potong kuku,” tandas TGB seraya mengajak, istiqomah mengisi majlis, musholla, masjid. Dilakukan terstruktur dan berkelanjutan agar warna keislaman Aswaja tetap menjadi mainstream.

Aswaja mengajarkan, bagaimana mempraktekkan Islam diruang publik, dengan kehadiran Islam yang beradab, sesuai fitrah akal sehat. al-Haq seperti empat lingkaran yang beririsan. Yakni, syariat, akal, wakiq atau realita, dan fitrah. Bahkan, Syeikh Ali Jum’ah, mantan Mufti Mesir menegaskan, Aswaja tidak hanya bicara teks, tetapi bagaimana usaha menyelesaikan problem-problem pokok.

Bagaimana implementasi sosial, hubungan sosial, bermasyarakat dalam Aswaja?. 

Dengan alenia cukup panjang dalam risalah, Hadratusysyaikh menegaskan, Aswaja selalu berusaha perbaiki hubungan silaturahim persaudaraan, berbuat baik pada tetangga dan teman, tahu hak dari orang tua tua (orang tua secara biologis maupun secara keilmuan). Mencintai dan mengasihi orang yang lemah (lemah secara ekonomi, soal dan lainnya). Mencintai dan mengasihi orang kecil (kecil umur maupun yang dikecilkan, dan lainnya).

Bagi TGB, Hadratusysyaikh menulis alinea khusus dalam kitab yang begitu tipis, yakni tentang membangun tatanan sosial dan hal-hal muamalah. Menunjukkan posisinya tidak kalah penting dalam pemahaman dan pengamalan Aswaja.

Perbedaan dan Moderasi Islam

Dalam #NgajiKitab ini juga muncul sejumlah pertanyaan, salah satunya mengenai berbagai paham yang ada ditengah masyarakat, yang dikhawatirkan akan kian tajam. Habib Hamid al-Kadri, salah satu habaib dalam #NgajiKitab ini justru memandang, Indonesia masih menjadi percontohan, negeri-negeri muslimin di Timur Tengah bangga dengan apa yang dimiliki bangsa Indonesia. Ormas-ormas keumatan, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Nahdlatul Wathan (NW), dan lainnya menampilkan bagaimana hakikat nilai-nilai berIslam. Disebutkan, Habib Umar al-Hafidz selalu mencontohkan Indonesia sebagai contoh implementasi Islam Wassathiyah.

Kehadiran Wali Songo dan ulama lainnya, disebut sebagai Rizal Wassathiyyin, menenteramkan Indonesia yang beragam. Hubungan keilmuan yang berkesinambungan antar ulama terdahulu menjadi kekuatan yang tidak bisa dibongkar apapun. Tinggal bagaimana istiqomah dalam manhaj, dengan adab yang diwarisi para ulama. Al-Magfurullah KH Maimun Zubair, tidak ada yang tidak merasa kehilangan, kehadirannya mampu menjaga stabilitas negara. Dalam berbagai kondisi, tarik-menarik kepentingan. Kuncinya, istiqomah,adab, ahlak, dan dakwah.

“Jangan bawel. Orang bawel, gak usah ribut, kita juga jadi bawel,” tandas habaib muda ini. Pandangan senada juga disampaikan TGB, bagaimana para habaib di luar negeri memberikan penghargaan kepada umat Islam di Indonesia. Mereka mampu men-scanning dengan helicopter view berbeda. Para Rizal Wasathiyyin menghadirkan pahaman wassathiyin, moderasi Islam. Dari sisi aqidah, jelas pakem As’ariyah Maturidyiah, jika diluaskan sedikit, ada juga as-Syafiiyiah as-’Ariyah Maturidiyah.

Hal pokok, bukan hanya soal syariah-fiqih-aqidah, tetapi juga bagaimana memahami negara dengan pandangan fikih kebangsaan. Ironis, jika pengamalannya Syafi’i As’ariyah,tetapi tidak mengerti fiqih kebangsaan, makna kita ber-Indonesia itu apa. 

Dampaknya, gampang diombang-ambingkan pandangan-pandangan yang menghadapkan Indonesia sebagai kesepakatan, diametral dengan khilafah, kemudian menaifkan legalitas kita ber-Indonesia. Wadah ber-Syafi’i As’ariyahnamanya Indonesia. Tanggung jawab kita, menjaga Indonesia tetap utuh. Jangan terseret jargon yang terlepas dari konteks, sebab akan menghadirkan fitnah dan mudarat yang lebih besar. Ini bukan mengkultuskan NKRI, meletakkan agama dan negara sejajar. Namun, jika wadah Indonesia hilang, kita tidak akan bisa berislam dengan baik.

Sanad Keilmuan dan Adab

Dalam tradisi Aswaja, Sanad ini tidak hanya sebagai alat scientific, tetapi juga di dalamnya inherndengan sistem nilai, termasuk adab, hubungan sosial dan lainnya, sehingga menjadi bagian penting dari peradaban Islam. Berbeda dengan pengetahuan barat, selama ini backmind kolektifkita sudah sangat familiar dengan “pengetahuan barat”, sehingga menjadi habitus zaman modern.  

Kerapkali perbedaan kericuhan pandangan muncul, karena kaca mata melihat tradisi Islam dengan sistem pengetahuan ala Eropa. Ilmu pengetahuan dianggap sesuatu yang bebas nilai. Dalam Islam, tidak hanya sekedar transfer ilmu pengetahuan, di dalamnya ritus-nilai yang tidak bisa dipisahkan. 

Tradisi barat, yang pokok adalah transfer pengetahuan, soal adab dan tata nilai tidak inhern. Adab dan hal lain hanya soal rasa, jika hendak disederhanakan.

TGB berpandangan, keberlanjutan sanad ini harus dari dua sisi, yang memberi dan diberikan, sebab banyak juga ulama yang pengetahuan dan tadwin-nya utuh, namun tidak semua ulama mazhab dan pandangannya terwariskan, seperti Sofyan Assauri, dan sejumlah ulama lainnya. Pelajaran yang bisa diambil, tidak hanya orang, guru, ulama yang harus hebat, tetapi muridnya juga harus rajin mencatat, melakukan kodifikasi, karena itulah yang terwariskan.

Mengenai sanad keilmuan, Habib Umar alHafidz menerangkan, contoh terang bagaimana cahaya terang Ilmu, ada dalam al-Magfurullah KH Maimun Zubair. Sepeninggalnya, ada lubang dalam Islam. Keilmuannya otentik, jernih, bersih, ilmunya diperoleh dengan benar, dan garis ilmunya bersambung dengan cahaya terang Nabi Muhammad SAW. Ini menjadi keistimewaan, sosoknya seperti benteng, perhiasan, kekuatan, umat Islam. 

Ilmu bukan hanya terkait dengan banyaknya riwayat yang menyebutkan, tetapi bagaimana ilmu seperti cahaya yang ditaruh dalam hati. Dalam kitab Adabul Ta’lim Muta’alim, seorang murid harus total, termasuk bagaimana adab terhadap guru. Soal adab menuntut ilmu ini, seringkali terlupakan dengan alasan modernitas, kemajuan, dan propaganda. Apa yang dibangun dan diwariskan ulama terdahulu diabaikan.

Perisalah :

Nashib Ikroman

Hamzanwadi Institute

Pin It on Pinterest

Shares
Share This