Tampilnya tokoh-tokoh muda dalam pentas politik daerah dan nasional memberi harapan baru pada masa depan negeri ini. Harapan yang lebih cerah dan mencerahkan. Setidaknya, ekspektasi itu terekspresi pada “publik forum” yang menghadirkan beberapa pimpinan muda Indonesia.

Mereka antara lain Gubernur NTB, TGH. Muhammad Zainul Majdi, Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, Walikota Makasar, Rhamdan Pomanto, Walikota Bogor, Bima Arya, Walikota Bandung, M. Ridwan Kamil, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama sebagai pembicara di Ballroom XXI, The Jakarta Theatre, Jalan MH Thamrin Jakarta, Sabtu (1/3/2014) lalu.

Publik forum yang digagas oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat, Dino Patti Djalal dengan judul “Reformis Hibrida dan Reformis Horizontal” dan dihadiri sekitar 1000 peserta itu, setidaknya bisa memberi penegasan tentang optimisme terhadap masa depan Indonesia. Hampir seluruh peserta yang ditanya Dino Patti Djalal yang memandu acara itu tanpa ragu mengangkat tangannya sebagai bentuk optimismenya terhadap masa depan diri dan negerinya.

Optimisme generasi baru Indonesia yang menyesaki “publik forum” itu bertambah menguat setelah mendengar komitmen pemimpin-pemimpin muda yang menjadi pembicara dalam membangun daerahnya masing-masing. Mereka masuk “ruang” politik bukan untuk kepentingan dirinya sendiri. Tetapi mereka ingin memberi pengabdian terbaiknya untuk daerah dan negeri yang dicintainya.

Katakanlah seperti yang disebutkan oleh Tuan Guru Bajang (TGB) panggilan TGH. Muhammad Zainul Majdi, keterpanggilannya untuk ikut kontestasi pemilihan gubernur, karena melihat tidak semua persoalan masyarakat bisa diselesaikan dengan pendekatan kultural. Tetapi juga ada hal-hal yang harus dikerjakan secara sistemik dan kebijakan harus diambil. Padahal sebagai orang dengan latar belakang pendidik dan dai, penyelesaian masalah masyarakat hanya bisa dilakukan dengan pendekatan kultural.

Terkait soal politik. TGB melihatnya dari dua sisi, di satu sisi politik diakuinya ada memang praktik-praktik politik saling tarik ke bawah dan saling jegal. Tetapi menurut TGB, dia memaknai dan memilih politik dari sisi pengambilan kebijakan. Karena itulah, ketika dia memasuki “ruang” politik sebagai gubernur cukup banyak kebijakan yang diambil untuk kepentingan masyarakat. Katakanlah dengan melakukan reformasi birokrasi dan meminta seluruh pejabat struktural menandatangani fakta integritas.

Tantangan dalam pembenahan birokrasi tidak sederhana. Bahkan TGB menyebutnya luar biasa. Karena itulah katanya, pendekatannya tidak biasa hanya dengan pendekatan normatif. Tetapi harus ada pendekatan yang menyentuh kepentingan mereka dan sistem di mana mereka berada. Dengan pendekatan dan kebijakan yang diambil selama ini. Ada banyak hasil yang terlihat. Antara lain, turunnya angka kemiskinan yang cukup besar dalam rentang waktu 5 tahun kepemimpinannya periode pertama (2008-2013).

Untuk membangun Indonesia, orang-orang hebat harus tampil di panggung politik untuk membenahinya. Tidak boleh orang-orang dengan watak rendah menguasai “ruang-ruang” politik. Akibatnya, sangat berbahaya bagi keberlangsungan ibu pertiwi. Negeri ini bisa menjadi berantakan karena dijarah oleh anak bangsanya sendiri. Contohnya sudah banyak.

Pada pidato pembuka “publik forum”, Dino Patti Djalal menyebutkan angka sejumlah kepala daerah dan beberapa anggota DPR-RI serta anggota DPRD yang tersangkut kasus korupsi. Dampaknya katanya, kepercayaan dan optimisme masyarakat terhadap politik, lembaga negara dan demokrasi menjadi menurun.

Namun dia meyakini, bahwa di negeri ini masih banyak orang-orang hebat yang menjadikan “ruang” politik sebagai ladang pengabdian untuk bangsanya. Di antaranya, dia mengistilahkan, di daerah dan kabupatan dan kota masih banyak dan tumbuh mutiara-mutiara pemimpin baru yang reformis dengan mengusung gaya politik dan bobot politik yang bisa membangkitkan optimisme masyarakat terhadap negerinya. Hanya saja persoalannya, tokoh-tokoh hebat itu belum banyak dikenal secara nasional karena sepinya sorotan media tentang mereka.

Untuk memunculkan tokoh-tokoh hebat tersebut, memang tidak boleh berhenti dalam satu kali kegiatan “publik forum”. Kegiatan itu harus terus mengalir. Sehingga tokoh-tokoh muda yang hebat itu bisa terus didorong untuk saling mengenal, saling mengisi dan bekerja sama membangun negerinya, meski mereka mempunyai jalur politik yang berbeda. “Kita bangun Indonesia ini dari daerah. Ibaratnya, Indonesia itu titik refleksinya di daerah. Kita pijit titik refleksinya untuk menyehatkannya,” kata Rhamdan Pomanto.

Menggantungkan harapan pada pemimpin-pemimpin muda memang tidak salah. Ada energi yang dapat menyemangati kita untuk menjawab masa depan Indonesia. Paling tidak, tercermin pada pemimpin muda yang menjadi pembicara pada “publik forum” tersebut. Termasuk TGB sebagai bagian dari pemimpin muda di negeri ini. Mereka cukup mampu menebar optimisme. Mereka tidak mau menunggu. Tetapi menjemputnya. Seperti yang dikatakan, Bima Arya. Dia tidak mau menunggu perubahan, tetapi menjemput perubahan untuk membangun Kota Bogor setelah dilantik.

Tidak terkecuali juga dengan Ahok, panggilan Basuki Tjahaya Purnama, yang mengaku motivasinya memasuki panggung politik, karena ingin tidak ada lagi masyarakat yang mendatangi rumahnya untuk minta uang karena tidak ada biaya sekolah, berobat dan rumahnya roboh. Begitu juga dengan motivasi Ridwan Kamil, dan Abdullah Azwar Anas. Mereka masuk panggung politik untuk bisa mengambil peran dan berbuat “Politik itu tidak seluruhnya buruk. Saya masuk ke dalamnya, agar saya bisa melakukan perubahan dari dalam,” kata Abdullah Azwar Anas.

Kebutuhan yang mendesak bagi Indonesia sekarang adalah muncul dan bertebarannya pemimpin-pemimpin muda yang sesuai dengan selera zamannya di seluruh pelosok negeri. Seperti yang cirikan Dino Patti Djalal, pemimpin yang tidak terlalu protokoler, inovatif, terbuka pada ide-ide baru dan tidak gelap mata mengejar kekuasaan serta kekayaan. Sehingga kejujuran di negeri bukanlah sebagai sesuatu yang hebat seperti yang dikatakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tetapi kejujuran kelak menjadi hal yang biasa. Barulah Indonesia hebat jika suasananya seperti.

Namun perlu diakui bahwa kejujuran di negeri ini masih menjadi barang mahal dan mewah. Sehingga menjadi wajar kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin, termasuk pemimpin muda berguguran dan rontok. Karena memang, tidak sedikit anak muda yang masuk ke panggung politik mencederai kepercayaan masyarakat.

Karenanya menjadi tidak keliru, apa yang digagas Dino Patti Djalal didorong menjadi sebuah gerakan dengan menampilkan pemimpin-pemimpin muda yang memiliki daya tahan idealisme yang luar biasa untuk mengembalikan dan merebut kepercayaan masyarakat.

Agus Talino, Pemimpin Redaksi SUARA NTB

[jetpack-related-posts]

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This