“Indonesia negeriku. Engkau panji martabatku. Siapa datang mengancammu. Kan binasa di bawah dulimu”. Demikian potongan syair lagu yang diciptakan oleh Kiai Wahab Hasbullah pada tahun 1934 yang lalu. Syair lagu yang berjudul Syubbanul Wathon ini sungguh memiliki makna yang luas apabila kita mau mengkajinya lebih dalam.

Sejarah mencatat bahwa lagu ini menjadi semangat para pejuang dari kalangan kaum santri untuk mempertahankan kemerdekaan atau yang lebih dikenal dengan resolusi jihad.

Apabila dimaknai secara harfiah, syair lagu ini menunjukkan betapa kaum santri sangat menjunjung tinggi semangat patriotisme. Sebuah ikrar untuk rela mengorbankan diri dan berani melawan siapapun yang berniat merongrong stabilitas bangsa Indonesia. Kita tidak boleh lupa pada sikap responsif santri atas fatwa ulama tentang kewajiban jihad melawan penjajah pada saat resolusi jihad berlangsung.

Tidak perlu diragukan lagi, terbukti bahwa memang kemerdekaan Indonesia tidak terlepas dari semangat juang kaum santri.  Kita tak asing dengan nama-nama pahlawan seperti Pangeran Diponegoro, Kyai Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah, KH. Wahid Hasyim, Bung Tomo, serta masih banyak lagi, merupakan sosok yang berlatar belakang sebagai santri.

Pertanyaan yang muncul selanjutnya, bagaimana peran santri di masa sekarang? Sanggupkah kaum bersarung ini menjadi tonggak yang akan menciptakan peradaban luar biasa bagi Indonesia? mengingat permasalahan negeri ini semakin besar dan berat. Mulai dari permasalahan hukum, ekonomi, politik, sosial, budaya, hingga kontestasi ideologi.

Melihat kondisi santri dan pondok pesantren saat ini, kita masih bisa bersikap optimis bahwa dari kalangan inilah muncul tokoh yang akan mampu mewujudkan Indonesia yang berkemajuan. Apa alasannya? Pertama, santri terdidik dengan sikap kemandirian. Bukankah salah satu permasalahan bangsa ini adalah ketergantungan terhadap bangsa lain, akibatnya rakyat mudah dipengaruhi, dikonstruksi pemikirannya oleh bangsa lain.

Maka jika bangsa Indonesia dipenuhi oleh orang-orang yang mandiri, dapat dipastikan bahwa negeri ini akan mampu berdikari dan mencapai kemajuannya. Kedua, santri memiliki sifat mengabdi. Mereka terbiasa ikhlas dalam melakukan pekerjaan. Hal yang mereka pikirkan ketika melakukan sebuah kegiatan, bukan memperoleh imbalan materi, melainkan semata-mata mencari cara agar bermanfaat bagi orang lain.

Ketiga, santri memiliki ruh jihad. Definisi jihad di sini adalah tekad dan komitmen yang kuat dalam mengarungi penderitaan serta memecahkan kebuntuan. Bangsa Indonesia akan dapat menaklukkan dunia apabila dipenuhi dengan orang-orang yang memiliki tingkat kesungguhan yang kuat disertai rasa ketaqwaan terhadap Tuhan. Kelima, santri memiliki sikap mencintai ilmu dan berwawasan luas. Di dalam pondok pesantren, santri terbiasa dengan disiplin belajar.

Bukan sekedar belajar biasa, namun proses belajar yang diwarnai sikap tawadhu’ (hormat) kepada guru dan ilmu yang dipelajari. Efeknya, hasil belajarnya penuh keberkahan yang ditandai dengan tiadanya kesia-siaan dari semua tujuan ilmu yang dipelajari. Santri dikenal biasa tidur telat dan bangun lebih awal.

Melihat fakta ini, maka tak heran apabila Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), TGB Zainul Majdi pernah mengatakan, “Santri bisa jadi gubernur, santri harus siap dan punya potensi untuk berkhidmat”. Gubernur yang juga berlatarbelakang santri itu meyakini bahwa pondok pesantren telah membekali generasi muda dengan bekal yang cukup. Semangat juang, optimisme, cinta tanah air, dan tidak mudah putus asa yang dimiliki santri dapat menjadi modal terciptanya peradaban bagi bangsa Indonesia. Apalagi jika mereka mampu menjadi pemimpin atau menempati posisi penting di negeri ini.

Penulis, Budi Prakoso Kompasianer

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This