Perhatian publik pada Pilpres 2019 belum berhenti. Tagar (tanda pagar) #2019gantipresiden menjadi bumbu yang menarik. Bagaimana tak menarik, karena tagar ini ditulis di kaos, sampai Presiden Indonesia Joko Widodo harus berkomentar, “Masa kaos bisa ganti presiden,” katanya. Tagar lain pun muncul #2019jokowipresiden, #jokowi2periode, sampai #2019presidenbaru.

Tetap saja, tagar semacam ini tak bisa menjadi ukuran dan dipertanggungjawabkan. Baiknya kita mencermati hasil ilmiah oleh Survei Nasional Opini Publik 2018 Lembaga Survei Kedai KOPI (Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia) yang diluncurkan melalui live streaming (14/4).

Survei ini menampilkan elektabilitas sejumlah nama calon presiden dan wakil presiden. Joko Widodo saat disandingkan dengan sejumlah nama masih dominan (48,3 persen) diikuti Prabowo Subianto (21,5 persen), Gatot Nurmantyo (2,1 persen) lalu TGB Zainul Madji, Anies Baswedan, dan Agus Harimurti Yudhoyono yang sama-sama mendapatkan 1,1 persen suara.

Pada pertanyaan terbuka Jokowi juga berada pada posisi teratas top of mind masyarakat sebagai calon presiden (35,1 persen), sedang Prabowo berada posisi berikutnya dengan 12,0 persen. Lalu diikuti sejumlah nama lainnya, Gatot Nurmantyo (1,1 persen), Agus Harimurti Yudhoyono (0,7 persen), TGB Zainul Madji (0,5 persen) dan SBY (0,5 persen).

Mencermati hasil survei KedaiKOPI ada nama beberapa waktu terakhir tengah jadi perbincangan yaitu TGB Zainul Majdi, Gubernur NTB dua periode. Nama yang sanggup menyodok dalam hegemoni elit politik yang itu-itu saja. Bila menelaah nama-nama tersebut, yang tak kalah mengejutkan TGB jadi satu-satunya representasi Indonesia Timur. Ini penting untuk dicermati. Mengingat Indonesia ini terbangun dari Kebhinekaan yang majemuk. Nama TGB tak boleh ditenggelamkan, malah harus dipacu karena menjadi satu-satunya wakil yang akan merajut Kebhinnekaan.

Jelas, ini tak berlebihan mengingat, Indonesia dengan ragam suku, agama, ras, dan golongan harus tetap dijahit secara adil. Ada adagium, wakil minoritas cenderung mengedepankan kepentingan minoritas. Calon petarung yang sebagian dari Jawa, memungkinkan menghadirkan Jawa sentris. Padahal ada Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua daerah-daerah besar yang patut jadi perhatian.

Soal pengalaman, TGB sejatinya telah membuktikan. Menjadi Gubernur NTB dia periode, sanggup menyatukan berbagai suku, agama, ras, dan golongan di NTB. Kebijakan yang dicetuskan pun tergolong populis dengan memberi ruang pada semua kepentingan.

Hasil data KedaiKOPI pun seolah tak berlebihan menempatkan posisi TGB sebagai Wakil Presiden Indonesia mendatang,  hasilnya TGB meraih 6,2 persen. Dibawah  Gatot Nurmantyo (17,5 persen).  Lalu diikuti Agus Harimurti Yudhoyono (8,7 persen ), Anies Baswedan (8,6 persen). Menyusul kemudian Abraham Samad (4,1 persen), Tito Karnavian (3,9 persen), Muhaimin Iskandar (1,7 persen), Rizal Ramli (1,1 persen) dan nama nama lainnya.

Dan masih menurut data KedaiKOPI saat publik diajukan pertanyaan terbuka, bila pemilihan presiden dilakukan hari ini, siapa yang akan anda pilih sebagai Wakil Presiden? 4,6 persen responden menyebut nama Gatot Nurmantyo.  Nama lain yang menempati top of mind publik sebagai calon wakil presiden adalah  TGB Zainul Majdi (4,4 persen) dan Agus Harimurti Yudhoyono (4,3 persen) .

Lewat survei ini masyarakat setuju jika presiden setidaknya memiliki 5 karakter ini; kompeten, jujur dan dapat dipercaya, perhatian terhadap rakyat, santun dan religius. Rata-rata dari 5 karakter itu, Jokowi selalu menempati rangking pertama kecuali, kriteria religius yang predikatnya diberikan publik kepada Gubernur NTB TGB Zainul Madji mengungguli Jokowi, Gatot, Prabowo, Abraham Samad, Agus Harimurti dan lainnya.

Soal religiusitas ini tentu tak berlebihan. TGB yang merupakan doktor ahli tafsir alumni Al Azhar, selama ini selalu mampu menjadi peneduh bagi segala ormas. Hubungan dengan Nahdlatul Ulama (NU) mesra, dengan Muhammadiyah pun juga baik. Termasuk dengan ormas lainnya. Hal ini jelas dibutuhkan disaat situasi bangsa ini begitu pelik. Begitu mudah menyerang ulama dari ormas yang berbeda.

Dalam sebuah pengajian di Darut Tauhid, Bandung beberapa waktu lalu TGB memberi jawaban lugas ketika ada masyarakat menanyakan, saat ini antar ulama disebut saling bertentangan. Menurut TGB, sesungguhnya antar ulama tak ada pertentangan yang keras. Memanasnya kondisi saat ini adalah akibat umat atau jamaah yang saling menyerang dan menjelekkan. Dan TGB masuk dalam ulama yang bisa diterima semua kalangan.

Survei Kedai KOPI yang dilakukan terhadap 1135 responden di 34 propinsi dengan Margin of Error (MoE) +/- 2,97  persen pada interval kepercayaan 95,0 persen dengan responden adalah masyarakat umum (calon pemilih berusia >17 tahun atau sudah menikah) dan dipilih dengan menggunakan metode Multistage Random Sampling dan diwawancarai dengan tatap muka (home visit) ini menjadi data yang sanggup menjadi acuan.

Negeri ini membutuhkan penyeimbang. Penjahit profesional yang sanggup merajut Kebhinnekaan. Dengan satu-satunya calon dengan kualifikasi lengkap, wakil luar Jawa, ulama, dan pemerintah, TGB tak hanya menjadi opsi. Cucu dari Pahlawan Nasional Maulanasyeikh TGH Muhammmad Zainuddin Abdul Madjid ini bisa menjadi pilihan. Tak sekadar wakil presiden tentunya, bila perlu TGB menjadi poros ketiga penantang Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Hanya saja, tetap saja rasionalitas kita kepada TGB harus berkaca pada aturan. Hanya partai dengan komposisi 20 persen di parlemen yang bisa mengusung calon dalam pilpres.

Posisi TGB hanya menjadi Wakil Majelis Tinggi di salah satu partai. Namun masih ada partai yang berpeluang mengusung, ada tiga partai yang masih belum menentukan sikap. Partai Demokrat, PAN, dan PKB. Gerindra disebut kuat berkoalisi dengan PKS. Namun, tak menutup partai yang sudah pasti mengusung Joko Widodo seperti PDI Perjuangan, PPP, Golkar, Nasdem, dan lainnya bisa menjatuhkan pilihan pada TGB Zainul Majdi. Karena pada dasarnya mengusung TGB akan menghasilkan hitung-hitungan politik yang menguntungkan.

Cak Iwan Bejo/Penikmat Kopi Hitam

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This