Mungkin Anda sedang mumet menyimak kabar sengkarut reklamasi wilayah DKI, tertangkapnya oknum panitera Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, dan berbagai kasus korupsi lainnya. Publik pun masih kaget oleh beredarnya daftar nama pejabat dan pebisnis dalam Panama Papers. Malah, ada yang tertangkap sedang pesta narkoba dan Kepala BNN Provinsi yang terjaring razia. Ada guru yang ditengarai menyediakan jawaban atas Ujian Nasional untuk para siswanya.

Ironis. Semua bukan berita yang enak didengar. Negeri ini seolah-olah akan runtuh.

Saya ingin mengajak Anda sejenak melupakan itu, dan mengajak Anda untuk mengalihkan fokus ke NTB. Saya baru kembali dari Mataram Senin lalu. Setelah Hari Pers Februari 2016 lalu, saya baru jumpa lagi dengan TGH Zainul Majdi, Gubernur NTB, yang lahir di Pancor, Selong, 31 Mei 1972. Masih muda, 44 tahun. Kini dia sedang menjalani periode kedua memimpin NTB sejak tahun 2008.

Kali ini saya diundang untuk memimpin Temu Wicara para pemangku kepentingan program pemberdayaan masyarakat yang diselenggarakan Pemprov NTB dan Tazkia Group, mitra Pemprov NTB. TGH adalah singkatan dari Tuan Guru Haji. Tuan Guru juga sebutan masyarakat untuk tokoh yang dihormati karena ilmu keagamaan dan sosial kemasyarakatannya. Di Jawa, dikenal dengan sebutan Kiai. Ia adalah cucu pendiri Nahdatul Wathan (NW), TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, ormas terbesar di NTB.

Saya mengenalnya sejak tahun 2008, masyarakat menjulukinya Tuan Guru Bajang. Kami saling berkunjung. Saya menangkap kesan, kepemimpinannya visioner, disiplin, hands-on (bekerja), dan rajin silaturahim. Sebagai manusia Tuan Guru Bajang tentu tak sempurna. Namun praktik mengubah visi menjadi aksi nyata dan kinerja bisa jadi contoh praktik manajemen publik yang layak kita contoh.

Berbagai terobosan pelayanan publik, pembangunan infrastruktur, dukungan terhadap pelaku jasa turis dan aktivitas MICE (meeting, incentive, convention, and exhibition) dan berbagai inovasi sosial, pemberdayaan masyarakat membuat wajah NTB berubah cukup signifikan.

Dengan rumus kepemimpinan itu, NTB mampu menurunkan kemiskinan yang semula tercatat 23.81% jauh di atas rata-rata Nasional 15.42%, menjadi 16.54% pada tahun 2015, meski masih diatas rata-rata nasional 10.96%. Angka kemiskinan ini masih menggunakan definisi Pemerintah, bukan Bank Dunia.

Saya tak mengetahui persis semua jurus jitu penurunan angka kemiskinan itu, kecuali satu program yang bernama Lumbung Bersaing, sebuah model pemberdayaan kelompok masyarakat berbasis kelompok ibu-ibu. Tuan Guru Bajang paham sosiologis masyarakat yang dipimpinnya. Ia mengambil keputusan dengan jelas dan tegas. Gubernur pertama yang mengadopsi model itu.

Metode yang digunakan mengadaptasi model Grameen Bank Bangladesh, yang dinamakan Baitut Tamkin atau Rumah Pemberdayaan. Metode ini hasil penyempurnakan Tazkia Group yang dipimpin pakar ekonomi syariah, Syafi’i Antonio, praktik keuangan mikro syariah disertai pembangunan karakter keluarga melalui kelompoknya. Tanpa ada rente didalamnya.

Singkat kata, melalui program Baitut Tamkin Lumbung Bersaing ini, perilaku masyarakat berubah signifikan. Mereka melepaskan diri dari jeratan rentenir, melatih tanggungjawab atas pinjamannya, menumbuhkan budaya menabung dan berdonasi untuk para anggotanya. Perubahan mentalitas dari tangan dibawah menjadi tangan di atas.

Peningkatan pendapatan kaum ibu tak disertai angka perceraian dalam keluarga, tak seperti terjadi pada beberapa wilayah lain. Dana bergulir yang digerakan para anggota yang kemudian mendirikan Koperasi Syariah Baitut Tamkin Lumbung Bersaing pada tahun 2014 ini, meningkat pesat dari semula sebesar Rp 6 Milyar, kini bernilai lebih dari Rp 38 Milyar dan menjangkau pemberdayaan 5992 anggotanya.

Dukungan Gubernur sejak awal sangat kuat terhadap program ini. Pada Temu Wicara itu, Bank Indonesia dari Kantor Pusat hadir untuk menjajaki pengembangan secara nasional. Tanggal 26 April 2016, direncanakan pimpinan Islamic Development Bank (IDB) yang berpusat di Jeddah berkunjung dalam rangka melihat langsung program ini. Metode Baitut Tamkin ini pertama kali dijalankan oleh Ihsan Arkam, Alumni IPB, menekuni pemberdayaan masyarakat sejak tahun 1994, dipraktikan di Kabupaten Bogor dengan timnya sejak tahun 2008 dan sukses direplikasi di Tasikmalaya sejak tahun 2010.

Pemimpin yang bekerja tak pernah sendirian. Dia senantiasa mampu mengelola sumberdaya dan kapabilitas lingkungannya untuk mewujudkan visi kepemimpinnanya. Ia juga memimpin, hands-on. Bukan mengimbau. Inti dari kepemimpinan selalu melakukan hal-hal yang benar melalui orang-orang yang dipimpinnya. Dia rajin dan disiplin, cerdas memilih tim dan sumberdaya pendukungnya, serta menyelesikan prioritasnya satu-persatu. Kerja Keras, Kerja Cerdas, Kerjas Tuntas.

Agar semangat tak kenal lelah dan energinya tak terbatas, guru saya menambahkan 3 AS itu dengan Kerja Ikhlas. Jadi 4 AS. Saya melihat masih banyak para pemimpin daerah, organisasi, perusahaan yang bisa jadi panutan kita. Termasuk diantaranya, TGH Zainul Majdi. Pemimpin yang bekerja mengingatkan saya pada Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN, yang pada tahun 2011 pertama kali mempraktikkan istilah: kerja, kerja, kerja!

Kita selalu punya pilihan untuk terus memperjuangkan impian yang baik untuk negeri ini, di tengah arus sebaliknya, penyalahgunaan kekuasaan untuk diri, keluarga dan kelompoknya. Selalu ada harapan, selalu ada pilihan. Bagaimana pilihan Anda?

Penulis, Mukhlis Yusuf (Pelatih Eksekutif pada Strategic Actions. CEO Perum LKBN ANTARA 2007-2012)

Republika, Kamis, 21 April 2016

[jetpack-related-posts]

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This