Menyimak sejumlah pernyataan TGB di acara Satu Meja, Kompas TV yang bertajuk “Manuver TGB, Akal Sehat atau Siasat?” yang ditayangkan secara live pada hari Senin, 16 Juli 2018, ada satu pernyataannya yang menurut saya sangat mencerminkan sifat karakter orang Sasak. Sebuah pernyataan yang berani, tegas, lugas. Sikap yang mencerminkan seorang pepadu Sasak yang sedang berada di tengah-tengah medan laga.

Makna istilah pepadu

Pepadu itu kata atau istilah bahasa Sasak yang sangat populer di masyarakat Sasak. Pepadu mengacu pada orang atau pelaku atau agen yang melakukan suatu aktifitas. Pepadu, secara morfologis, berasal dari dua morfem yaitu: ‘pe- sebagai prefiks atau awalan yang mengandung makna ‘orang atau agen’ dan ‘padu’ sebagai kata dasar yang bermakna ‘(1) melakukan kegiatan yang keras, penuh perjuangan, dan dengan penuh keberanian’ dan (2) ‘memasangkan dalam rangka mempertandingkan dua hal yang berlainan tapi sejajar sehingga terlihat nyatu dan seimbang’.

Maka dengan demikian, jadilah kata ‘pepadu’ identik maknanya dengan orang yang berani diadu, diandalkan, dan biasanya menjadi pemenang dan disegani oleh kelompok, komunitas, dan bahkan pihak lawannya. Karenanya, kata ini kemudian bermakna sangat positif di mata¬†masyarakat, serta orang yang disematkan dengan sebutan demikian pantas berbangga.

Hal ini dikarenakan ‘pepadu’ bisa menaikkan derajat sosialnya. Selain itu, dikarenakan kata ‘pepadu’ secara otomatis mengandung nilai keberanian, kejantanan, ketegasan, dan hal-hal maskulinitas lainnya. Sebaliknya, sifat-sifat karakter seperti pengecut, penakut, feminim, dan lemah adalah hal yang tidak berterimakan dalam diri seorang pepadu.

Justru disebabkan mengandung makna dan nilai seperti dikatakan tadi, maka kata atau istilah ini secara umum dipakai dalam kegiatan Peresean, yakni sebuah tradisi, tontonan, dan ritual pukul-pukulan dan adu tangkas yang dilakukan oleh dua laki-laki yang saling memukul satu dengan yang lain dalam rangka untuk saling mengalahkan, tanpa tedeng aling-aling.

Kedua orang inilah disebut pepadu, yang biasanya merupakan perwakilan dari satu kelompok atau komunitas untuk saling uji siapa yang lebih hebat. Dalam prosesnya, masing-masing para pepadu dilengkapi permainannya dengan menggunakan perisai yang terbuat dari kulit hewan (sapi atau kerbau) yang disebut “ende” dan satu tongkat pemukul dari rotan kering dengan panjangnya kurang lebih satu meter, yang disebut “penyalin”.

Tradisi ini cukup umum diselenggarakan oleh orang Sasak di berbagai tempat seantero pulau Lombok. Bahkan, acap kali kegiatan peresaian diselenggarakan dan diaponsori secara resmi oleh pemerintah daerah, dalam rangka memeriahkan perayaan Tujuh-Belasan ataupun peristiwa adat seperti Bau Nyale di Lombok Tengah.

Yang menarik dari fakta sosial kultural di atas adalah bahwa ‘pepadu’ senantiasa menyiratkan makna dan nilai keberanian, kejantanan, keangohan, ketangkasan dan juga sikap pantang menyerah. Makna dan nilai ini sejatinya menjadi salah satu karakter yang harus dimiliki oleh orang Sasak, sehingga menjadi terhormat di masyarakat, selain karakter-karakter lain seperti sikap tindih, ilaq, dan merang.

TGB yang mencerminkan pepadu

Dengan memahami makna pepadu secara sosial-kuktural bangsa Sasak di atas, tampak sekali kemudian bahwa di balik ucapan demi ucapan TGB yang santun, lembut, sistematis, dan rasional, TGB sangat memperlihatkan sifat karakter asli dirinya, yang lahir sebagai orang Sasak. Sifat karakternya itu terlihat salah satunya dari pernyataan dia yang mengatakan:

“Saya lahir bukan dari keluarga yang penakut, Mas. Bukan penakut. Bukan orang yang modelnya mencari proteksi untuk kepentingan saya, dengan kemudian mengabaikan prinsip saya..”

Pernyataan TGB di atas mengirim pesan atas semacam sikap yang melandasi dirinya di dalam mengambil keputusan. Sikap tersebut adalah keberanian, ketegasan, ketangkasan, dan keterbukaannya di dalam mengambil keputusan yang riskan, tatkala dirinya sebelumnya dipandang sebagai pendukung kelompok partai politik non-Jokowi.

Jika demikian adanya, maka kita sebagai rakyat biasa sepatutnya meniru sikap “pepadu” yang coba ditunjukkan TGB. Dengan menyebutkan dirinya sebagai orang yang tidak penakut san tumbuh bukan dari keluarga seperti itu menandakan secara tegas bahwa dia seorang yang terhormat dan pemberani.

Sikap keberanian dan ketegasan itu adalah beberapa nilai dari sekian banyak nilai yang diajarkan/ditanamkan oleh orang tuanya kepada dirinya. Keluarganya telah menyadari, saya yakin, bahwa dengan sikap semacam itulah harga diri dan jati diri kebangsaan bisa tetap menonjol di antara sekian banyak warna. Dan TGB intinya adalah pepadu Sasak, yang untuk sementara ini menjadi wakil “kebesaran” kita, bangsa Sasak, di level dan wacana Nasional kini.

Maka itu, kita sebagai orang Sasak sepatutnya mewariskan sikap ini di dalam segala langkah dan keputusan jalan kehidupan kita. Karena dengan sikap inilah kita bisa menjadi terhormat dan disegani oleh siapapun. Ini penting, karena kita semua sangat berpotensi untuk menunjukkan karakter “pepadu” itu, bukan hanya seorang TGB saja. Demikian. Wallohu ‘alam bissowab.

Nuriadi Sayip (Pengajar Universitas Mataram)

 

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This