Tidak mengherankan, sosok TGB menjadi magnet perhatian publik lokal dan nasional. Ini menandakan bahwa ketokohannya benar-benar diakui. Ini menunjukkan bahwa media telah memposisikan sebagai “media darling” dan “news maker” yang setara dengan tokoh-tokoh nasional yang lebih awal muncul ke permukaan.

Dalam konteks ini, NTB harusnya patut berbangga. Patut bahkan memberi ucapan terima kasih. Di mana NTB yang sebelumnya hanya dianggap, oleh orang luar NTB tentunya, sebagai daerah yang tidak diperhitungkan. Kini, berkat pemberitaan tentang ketokohan NTB berikut dengan keilmuan, kesuksesan, dan prestasinya, daerah ini menjadi puncak perhatian masyarakat Indonesia.

Lebih lanjut terkait, dalam konteks “menselebrasi” kebesaran tokoh TGB yang fenomenal tersebut, spontan saya berpikir bahwa patutnya gamabran TGB sekarang sudah bisa dianggap sebagai sebuah obyek wacana bahkan wacana itu sendiri. Dalam konteks ini, TGB bukan hanya sekadar ekspresi personalitasnya sebagai satu tokoh agama dan politisi an sich, tetepi TGB merupakan “hipogram” dari narasi-narasi yang muncul belakangan yang secara bertali-berkelindan menjadi rangakaian yang utuh yang menyaran pada dua pesan atau penilaian, yakni kemunculan sosok TGB dalam konteks positif dan inspiratif dan kehadiran sosok TGB dalam konteks negatif. Dan saya tidak tertarik mewacanakannya dalam jebakan dikotomis tersebut.

Saya malah tertarik mengangkat tentang sosok beliau dalam lanskap teori-teori Pengkajian Amerika (American Studies). Berbicara secara khusus terkait dengan bidang kajian ini, perlu diketahui bahwa seseorang tidak hanya melulu berbicara tentang seperti apa, siapa, dan bagaimana Amerika sebagai sebuah negara dan bangsa serta wilayah teritori geopolitik di dunia semata, tetapi mempelajarinya, seseorang akan menemui berbagai konsep, pemikiran, ideologi, dan teori yang bisa menjadi “alat bedah” serta sebagai paradigma di dalam melihat persoalan atau fenomena di luar dari hal terkait Amerika Serikat. Dengan demikian, maka menarik sekali mewacanakan sosok TGB dalam lanskap teori yang ada di Pengkajian Amerika. Apa sajakah itu? Di antara teori yang bisa dipakai adalah teori Leo Marx yang berbunyi “From Micro to Macro” dan teori Tremaine McDowell tentang “Past, Present, and Future”.

TGB dalam Lanskap “Micro to Macro”

Telah diketahui bersama bahwa TGB adalah seorang putra daerah dari wangsa Sasak yang sangat bangga dengan tradisi adat Sasak. TGB pun seorang “zurriyat” dari ulama besar yang lahir dan menghidupkan ormas NWDI di Lombok Timur yang semula diikuti oleh masyarakat Sasak sekitar Lombok saja. Berikutnya, TGB bisa menjadi gubernur NTB yang pada awal-awal pemerintahannya hanya terfokus pada pembangunan lokalitas atau kedaerahan propinsi NTB saja. Semua fakta di atas menunjukkan bahwa lokus beliau hanya terbatas pada wilayah kecil, yang dalam sudut pandang teori Leo Marx, disebut sebagai lokus “Micro” dalam karya terkenalnya berjudul “Machine in the Garden”.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, seiring berbagai prestasi dan kesuksesan yang dicapainya baik sebagai “umaro'” maupun sebagai “ulama”, maka lokus gerakannya kian berkembang dan mengembang hingga ke tingkat nasional bahkan internasional. Tidak main-main ia bisa demikian karea dia disyarati oleh kecakapan individu sebagai seorang ulama dan pemikir ke-Indonesia-an.

Ketokohan TGB kemudian implikasinya menjadikan TGB sebagai tokoh nasional dalam waktu pendek. Ia lantas pelan tapi pasti berani memperbincangkan soal isu-isu nasional. Sehingga akhirnya posisi lokusnya kini menjadi “lokus Macro” yang meliputi berbagai hal terkait sosial politik dan keagamaan yang menyeruak secara nasional.

Maka itu, tokoh TGB seakan mengikuti pola yang diungkap oleh Leo Marx bahwa, pertama, signifikasi gerakan perubahan itu sepatutnya diawali dari yang mikro namun secara pelan tapi pasti bisa mempengaruhi wilayah atau bagian-bagian yang lebih luas/makro.

Jika pola gerakan perubahan seperti demikian, maka eksistensi atas gerakan tersebut sudah berdampak nyata. Kedua, dalam konteks perspektif pemikiran, orang yang berpikir dalam asas “from Micro to Macro” adalah orang yang sudah berpikir komprehensif dan/atau holistis. Maka dengan demikian, pergeseran gerakan dan ketokohan yang dilakukan dan dimiliki TGB sekarang ini sudah nyata-nyata mencerminkan pola pikiran serta visi TGB sendiri sebagai tokoh, yakni mulanya hanya sebagai tokoh lokal (micro) saja dan kini beralih menjadi tokoh nasional (macro).

TGB dalam Lanskap Past, Present, and Future

Tremaine McDowell adalah salah satu tokoh dalam kajian American Studies yang karyanya berjudul “American Studies”. Pemikir ini mengkonsepsikan bahwa lintang sejarah kehidupan dan peradaban suatu kuam, komunitas, masyarakat, ataupun bangsa pada esensinya mempunyai rangkaian linearitas atau tali sambung-sinambung dari masa lalu (past) yang menjuntai ke masa kini (present) hingga menyaran pada akan seperti apa dan bagaimana di masa mendatang (future).

Dalam konteks yang sedikit berbeda, bahwa kondisi masa sekarang (present) merupakan cerminan dari semacam apa dan bagaimana masa lalu (past) yang kemudian juga bisa berimplikasi pada macam apa dan bagaimana keberadaan seseorang/suatu kaum ke depannya (future). Model pemikiran semacam ini, harus saya akui, tidak hanya diampu oleh McDowell saja tetapi juga diamini oleh sejarawan-sejarawan lainnya, termasuk Prof. Kuntowijoyo dalam pengantar bukunya yang berjudul “Metodologi Sejarah”.

Apabila mengikuti lanskap berpikir seperti di atas, maka jelas-jelas bahwa sosok figuritas yang ditunjukkan oleh TGB tidak terlepas dari seperti apa beliau hidup, tumbuh berkembang, dan menempa dirinya sejak masa kecil hingga dewasa. TGB adalah orang yang sangat beruntung jika dibandingkan dengan putra-putra daerah di NTB. Dia lahir dari keluarga yang serba ada, dan dibesarkan dalam situasi dan lengkondisian keagamaan serta spiritualitas yang hebat.

TGB secara langsung menjadi perhatian penuh dari kakeknya yang ulama besar Syeikh Abdul Madjid. Maka itu, tidaklah mengherankan ilmu, spiritualitas, dan kharisma yang dimiliki oleh Maulana Syeikh benar-benar berbinar dalam diri seorang TGB. Selain itu, dalam pengkodisian pendidikan formal dan referensi bacaannya pun terdukung sejak sekolah dasar hingga doktoralnya. Kondisi masa lalu semacam ini nyata-nyata membentuk seperti apa TGB sebagai seorang sosok kini (present) baik sebagai seorang gebernur maupun sebagai seorang ulama.

Menariknya, kehadiran sosok TGB yang mempunyai pembawaan yang cerdas, lembut, dan santun dalam bersikap dan mengeluarkan pemikiran seakan-akan menjadi oase tatkala sejumlah tokoh nasional (yang berperan sebagai umaro dan ulama) cenderung terkesan provokatif dan emosional di dalam memberi pernyataan di publik. Dengan demikian, TGB mempunyai porsi yang sangat berbeda dibanding posisi-posisi yang diambil oleh sebagian tokoh yang lain.

Dia tentu sekali menjadi “magnet” perhatian masyarakat. Karena dia memberi “alternatif pilihan” dalam mensikapi setiap persoalan politik, sosial keagamaan di Indonesia. Menariknya, pendasaran pemikiran TGB selalu dikaitkan dengan dalil-dalil agama (Islam) yang sangat bisa dipertanggungjawabkan. Oleh karenanya, tak mengherankan TGB sudah dipastikan kini menjadi tokoh nasional yang boleh jadi menjadi arah dan cermin seperti bagaimana baiknya eksistensi kebangsaan Indonesia di masa datang.

Dengan demikian, kemunculan TGB yang akhir-akhir ini mewarnai wacana nasional seharusnya ditanggapi secara positif, khususnya kita-kita yang lahir dan hidup di tanah wilayah Propinsi NTB. Apa sebab? Menjadi tokoh nasional yang berpengaruh itu tidaklah gampang dilakukan oleh orang-orang dari daerah, khususnya dari luar Jawa.

Hal ini disebabkan sebegitu banyak potensi yang harus “dikompetisikan” atau dilewati untuk bisa muncul ke permukaan level nasional dan berpengaruh besar. Mungkin, dalam lima atau tujuh tahun ke depan, hanya TGB-lah yang bisa menjadi “wakil” putra-putra daerah yang bisa mewarnai wacana nasional. Iya, mungkin. Karena TGB memang paket lengkap. Demikian. Wallohu ‘alam bissowab.

Penulis, H. Nuriadi Sayip (Dosen Universitas Mataram)

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This