Basis konsep politik Tuan Guru Bajang (TGB) adalah Wasathiyah (jalan tengah, moderat), itu tercermin dari sikap politik TGB, yang santun dalam ucapan dan tindakannya, pemahamannya terhadap agama sangat mendalam dan mampu menterjemahkan Islam yang damai, agumentasi agamanya kuat, penyampaiannya sopan dan lembut tapi memiliki daya determinasi yang dahsyat, satu kalimat terungkap.

“Jangan gunakan ayat-ayat perang dalam kontestasi politik” telah menggetarkan publik dan ummat, daya ledak pernyataan TGB ini menyadarkan kita dari hegemonik politik kanan, kalimat TGB menjadi buah bibir dan perbincangan semua tokoh nasional, banyak tokoh penting menyimpulkan bahwa TGB mengembalikan akal sehat perpolitikan Indonesia.

Konsep Wasathiyah yang di dengungkan TGB adalah langgam politik ahimsa (nir kekerasan), maksud kekerasan disini bukan hanya fisik, tapi juga pendapat dan wacana. Politik “nir kekerasan” TGB termaksud dalam pernyataanya beberapa hari yang lalu ketika menyampaikan tausiyah dihadapan ribuaan jamaah masjid Hubbul Wathan di IC NTB.

Dalam menyikapi polarisasi kebangsaan dengan munculnya wacana “agama atau politisasi agama dalam politik yang semakin kuat menjadi kuasa wacana klaim kebenaran. bayangkan saja di luar kelompok mereka adalah salah, haram dan bahkan dituduh “kafir”.

Politisasi agama dijadikan bahan propagada oleh kelompok kanan, membangun legitimasi politik, seolah lawan politiknya adalah kelompok kafir, keluar dari jalan Allah, argumentasi-argumentasi keagamaan menjadi makanan empuk kelompok ini, kuasa agama terus diekspolitiasi sebagai pembenar dukungan politik mereka, perjuangan politik diintegrasikan dalam “aqidah” sehingga diluar mereka dilabel melawan aqidah, kelompok ini mengklaim politik surga itu ada pada mereka.

Kapitalisasi agama telah membangun polarisasi politik yang tidak sehat, satu pihak menganggap politik mereka paling beriman dan diluar mereka adalah kafir.  Melihat penomena politik demikian pantaslah apa yang disampikan TGB bahwa “dalam kontestasi pilpres jangan gunakan ayat-ayat perang, karena kita tidak sedang berperang”.

Pernyataan TGB ini sontak menyadarkan kita dan membuka akal sehat banyak orang, ternyata kita sudah sangat terhegemonik oleh wacana politik yang mengatasnamakan agama, agama dijadikan baju suci oleh mereka yang mendompleng agama sebagai sarana politiknya.

Sikap TGB ini telah memberi pencerahan dan menyadarkan kita, tidak hanya kepada umat Islam, tetapi juga ummat lainnya, bahwa polarasi telah menggerus keramahan inter relasi kebangsaan, sudah saatnya pikiran dan akal sehat kita bekerja untuk mengembaikan Indonesia yang sebenarya, Indonesia dalam bingkai kebhinekaan, persaudaraan kebangsaan. []

Maulana Hakim (Kerto Asri Malang)

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This