Punggung tangan Tuan Guru Bajang (TGB) Zainul Majdi disentuh sekilas oleh AM Iqbal Parewangi, senator DPD-MPR RI asal Sulawesi Selatan. Keduanya duduk bersebelahan, dan sama-sama menjadi narasumber di acara ‘Silaturahim Tokoh dan Alumni Al Azhar Lintas Generasi’ yang berlangsung di Medan, Jumat (23/2) lalu. Suara Iqbal sebetulnya cukup lirih saat berucap pada TGB. “Saya merindukan negeri ini dipimpin oleh imam yang hafiz, pemimpin yang berkelimpahan rahmat,” ujar Iqbal.

Namun tampaknya, ucapan lirih itu masih cukup terdengar oleh ratusan peserta yang mengikuti diskusi panel dengan menghadirkan kedua tokoh ini. Menyaksikan adegan itu, sontak ballroom Hotel Madani Syariah, Medan yang berkapasitas 700-an orang itu bergemuruh dengan suara takbir dan tepuk tangan meriah. Ratusan ulama, tokoh Islam dan pimpinan Ormas Islam se-Sumatra Utara sepertinya satu suara dengan Iqbal, yang menginisiasi roadshow nasional bertemakan ‘Indonesia Mencari Presiden Baru’.

Bukan tanpa alasan, Iqbal menyentuh TGB dan membisikkan asa hatinya itu. Panitia mengundang Iqbal khusus untuk berbicara tentang “Kepemimpinan Ummat dan Ikhtiar Indonesia Mencari Presiden Baru”. Saat menyampaikan pandangan-pandangannya terhadap kondisi saat ini, Iqbal mengatakan, Indonesia kaya dan raya tapi belum jaya. Namun demikian, menjaga Indonesia adalah sebuah keharusan.

Dengan sejumlah data dan fakta aktual serta analisa yang runtut, Iqbal menguraikan pemaparannya yang menyita perhatian audiens sejak awal. Dia menyebut banyak contoh yang membuatnya risau. Seperti peristiwa pembunuhan ulama di masjid, adanya murid menganiaya bahkan membunuh gurunya, runtuhnya sejumlah bangunan infrastruktur sebelum digunakan, lalu munculnya fenomena impor mengimpor. Mulai dari gula, garam, hingga makanan pokok yakni beras, kini serbuan impornya kian merajalela.

Yang tak kalah merisaukan, impor gila-gilaan barang haram yakni narkoba. Jumlahnya tidak tanggung-tanggung. Bukan berkilo-kilo lagi, melainkan sudah berton-ton. Berbagai contoh lainnya, di mata Iqbal merupakan penanda-penanda serius dari belum jayanya Indonesia. Dia menyebut, bahkan itu bisa jadi sebagai penanda kemunduran.

“Penanda itu tidak berdiri sendiri, tetapi mewakili suatu realitas akbar di negeri ini. Juga penanda kemunduran itu. Dalam bahasa kredo manajemen, kepakan sayap seekor kupu-kupu di tepian Danau Toba dapat berakibat badai tornado di Amerika sana,” jelas Iqbal.

Dia pun menyebutkan, penanda pembunuhan yang dilakukan oleh murid terhadap gurunya, menegaskan ada masalah serius pada akar moralitas generasi. “Coba tanya ustaz Google. Cuma di Indonesia, kini terjadi murid mempolisikan, mempengadilankan, bahkan membunuh gurunya. Naudzubillah,” kata Iqbal.

Hubungan antara sejumlah penanda itu kemudian menjadi tolak ukur tuntutan kebutuhan hadirnya kepemimpinan nasional maupun daerah dengan kriteria khusus. Baginya, sederet penanda mengenaskan itu tidak bisa hanya ditangisi ataupun dikutuk. Perlu tafsir yang lebih jernih dan sedikit berani.

“Harapan tidak boleh mati. Indonesia butuh pemimpin yang berkelimpahan rahmat. Di tingkat nasional, Presiden yang berkelimpahan rahmat. Di daerah, gubernur atau bupati atau wali kota yang berkelimpahan rahmat. Di semua level dan semua lini,” katanya.

Itulah sejumlah hal yang melatari sentuhan dan bisikan mengandung asa kepada TGB. Tapi bukan hanya Iqbal, harapan hadirnya pemimpin berkelimpahan rahmat juga diutarakan sejumlah alumni Al Azhar Mesir. Sosok Gubernur NTB dinilai figur yang tepat menjadi pemimpin Indonesia.

Salah seorang alumnus Al Azhar yang kini menjadi dosen Sastra Arab IAIN Salatiga, Sidqon Maesur mengatakan, Indonesia harus punya stabilitas nasional untuk bisa membangun. Stabilitas nasional itu, menurut dia ada pada saat Tuan Guru Bajang memimpin, karena dia adalah seorang ulama yang sekaligus adalah sebagai umara.

Menurut Sidqon, TGB tidak hanya dipandang mampu mengurus pemerintahan, tapi juga seorang cendekiawan Muslim yang juga aktif berdakwah. Keseimbangan itulah yang kemudian diharapkan, TGB bisa berkiprah di level yang lebih tinggi lagi di tingkat nasional.

Alumnus Al Azhar lainnya yang mewakili Sulawesi, Andi Adrus mengatakan, apa yang dilakukan TGB terbukti mampu membuat NTB yang dipimpinnya selama dua periode lebih baik dan aman. Karena itu, dia yang berasal dari Indonesia Timur, tidak mau kebaikan itu hanya di NTB saja. Dia berharap kebaikan TGB, bisa meluas lagi ke seluruh bangsa Indonesia.

Sedangkan Ketua Ikatan Alumus Timur Tengah Aceh, Fadhil Rahmi menegaskan, rakyat Aceh merindukan pemimpin seperti TGB yang mendukung keistimewaan Aceh sebagai negeri yang menjalankan syariat Islam. “Insya Allah Aceh sebagai negeri syariah, dengan sosok TGB ini sudah sangat klop,” tegasnya.

Harapan sejumlah kalangan kepada TGB, juga menjadi perhatian pengamat politik sekaligus Analisis Komunikasi Politik Universitas Paramadina, Hendri Satrio. Menurutnya, sosok TGB yang kalem dan tidak ambisius memang belum diperhitungkan elektabilitas dalam bursa capres maupun calon wakil presiden (cawapres). Tapi kalau TGB dimajukan, dia menilai akan lebih berpeluang menjadi lawan berat Joko Widodo dibanding Prabowo.

Munculnya nama alumni Universitas Al Azhar, Kairo itu, di mata Hendri, karena umat membutuhkan figur pemimpin. Kemudian mereka yang non-Islam, juga mensyaratkan toleransi dari umat Islam. Apalagi, TGB terpilih menjadi gubernur selama dua periode serta dianggap berhasil memimpin NTB. Fakta ini bakal menjadi modal kuat untuk bisa menantang Joko Widodo dan juga capres atau cawapres lainnya.

Banyak kalangan menilai, figur sosok toleran TGB menjadi harapan calon pemimpin masa depan bangsa. TGB juga dinilai berhasil memimpin NTB selama dua periode kepemimpinannya. Dia juga memiliki pengetahuan Islam yang sangat bagus dan dalam, serta seorang hafiz Al-Qur’an.

Memang, sejauh ini belum ada satu partai politik pun yang secara resmi meminangnya untuk maju pada Pilpres 2019. Namun, bila elektabilitas TGB perlahan mengalami peningkatan, maka dipastikan parpol akan mendekatinya. Lalu, siapakah parpol itu? Hendri menyebut, kemungkinan besar yang paling pertama adalah Partai Demokrat. Namun jika Demokrat tetap memaksakan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), maka TGB akan lepas. Karena saat ini, elektabilitas TGB lebih bagus dibanding AHY. AHY, menurutnya memang lebih populer tapi dia bukan pemimpin umat.

“Sedangkan yang dibutuhkan sekarang adalah pemimpin umat. Apalagi banyak deklarasi-deklarasi yang mencalonkan dia,” tutup Hendri.

Lantas, bagaimana tanggapan TGB sendiri menyikapi maraknya perbincangan yang menggadang-gadangnya ikut dalam kontestasi Pilpres 2019? TGB mengaku bersyukur mendapat kepercayaan dari masyarakat terkait hal ini. Meski begitu, TGB menyerahkan sepenuhnya masa depannya kepada Allah SWT.

“Kalau ada aspirasi, alhamdulillah sebagai tanda kepercayaan dari masyarakat. Bagaimana ke depannya saya sebagai seorang yang beriman, kita serahkan kepada Allah, dan sejarah yang akan menentukan ke depannya,” kata TGB.

Andi Nur Aminah, wartawan Republika

Sumber : Republika, Selasa 27 Februari 2018

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This