Catatan sederhana ini anggap saja sebagai surat terbuka kepada seluruh generasi Sasak, generasi NW, pencinta NW, simpatisan dan semua orang yang pernah merasa belajar di madrasah NW. Kita tahu bersama bahwa TGB adalah satu-satunya putra Sasak yang menjadi wakil kita di pentas nasional dalam satu tahun terkahir ini. Ia bahkan telah sejajar dengan tokoh-tokoh nasional.

Pernyataan-pernyataan beliau dianggap penting dan punya daya memengaruhi situasi politik nasional terkini. Tak jarang pernyataannya menjadi viral dan punya daya dentum kuat mendobrak kebekuan politik di negeri ini. Ia hadir sebagai figur yang moderat. Dan mengangkat harga diri orang Sasak di kancah nasional.

Meskipun dalam sikap politik TGB tegas mendukung salah satu paslon, namun dalam pernyataan-pernyataannya, TGB selalu menjadi perambah jalan tengah dalam mencairkan benturan politik negeri ini yang kadang-kadag terlalu keras. Ia tak pernah mencaci.

Tak pernah menyerang lawan politiknya membabi buta. Ia selalu meningatkan bahwa politik ini adalah fastabiqul khairat. Dan oleh sebab itu, menurut TGB, maka jagalah persaudaraan, karena persaudaraan adalah aset non-material bangsa ini yang sangat besar. Kita semua sudah tahu itu.

Tak perlu diceritakan panjang lebar. Di zaman media teknologi informasi dewasa ini, anda tinggal mengakses di berita online, tv, youtube dan media sosial, lalu dengarlah baik-baik pernyataan-pernyataan TGB. 

Namun ternyata jalan politik TGB tidak mudah. Di pusat ia harus bersaing dengan tokoh-tokoh senior. Para pemilik partai. Dan para politisi hebat. TGB seperti menempuh jalan sunyi. Namun ia tetap berjalan meskipun pelan-pelan. Ia tidak menyerah. ia memutuskan ijtihad politiknya untuk mendukung Jokowi melanjutkan periode kedua.

Sebuah sikap politik yang tegas dan berani. Sebab sebelumnya TGB di tahun 2014 mendukung Prabowo-Hatta. Keputusan TGB mengejutkan banyak orang di Indonesia. Khususnya di Lombok sendiri. Sehingga TGB harus menjelaskan alasan-alasannya di berbagai tv nasional. Setidaknya TGB menjelaskan bahwa alasan utamanya adalah keberlanjutan pembangunan yang telah dirintis Pak Jokowi, pertimbangan akal sehat dan demi kemaslahatan kebangsaan.

Terakhir beliau menjelaskan di hadapan warga NW dan menguatkan lagi alasan dukungannya kepada Jokowi-Amin. TGB juga mencoba menepis segala hoaks dan hatespeech yang selama ini diarahkan kepada Jokowi. Ia menjawab dan membantah isu-isu tentang bahwa Jokowi anti Islam.   

Namun apa yang terjadi?  Sungguh aneh sekali melihat orang Sasak, dan juga generasi NW, mereka lebih percaya media sosial yang penuh hoaks dan kebencian ketimbang langkah dan ijtihad politik TGB. Diantara mereka bahkan tak segan merisak dan menghujat arah pilihan politik TGB. Kenapa hal ini terjadi? Tentu  pertama-tama, karena dulu pada 2014 TGB mendukung Prabowo-Hatta.

Kedua, karena selam empat thuan terkahir media sosial sebagai lumbung hoaks dan kebencian yang terus menerus menyerang Jokowi. Itulah sebabnya tidak mudah membalikkan  mindset orang-orang yang dulu mendukung dan sangat militan pada TGB untuk mendukung pilihan TGB.

Anak-anak muda NW mestinya sadar, tanpa politik, perjuangan tidak akan selalu mudah. Kita harus meletakkan politik sebagai washilah sedangkan perjuangan misi dan visi kesasakan dan ke-NW-an sebagai tujuan. Jika kita ingin menjadi bangsa Sasak yang bermartabat dan organisasi yang kuat, maka salah satunya jalannya adalah politik nasional.

Sebab dengan jalan itu,  kiprah putra sasak dan generasi NW untuk agama dan bangsa akan tampak jelas. Belajarlah dari saudara tua Muhammadiyah dan NU. Apakah tokoh dua ormas itu tidak berpolitik? Sejak awal mereka aktif di dalam aktivitas  politik negeri ini.  Sebab, secara geografis dua ormas itu lahir di jawa, dan jawa adalah pusat segala aktivitas politik.

Lalu kenapa kita kerapkali mengkritik ijtihad politik TGB? Dengan alasan macam-macam kita akan menjawab, karena tidak layak ulama’ berpolitik. Benarkah demikian? pandangan semacam itu sebetulnya pandangan yang sangat esensialis. Tidak benar ketika orang jadi ulama’ maka dia tidak boleh berpolitik. Mari kita uji bersama-sama pernyataan itu dengan data dan fakta historis.

Dari era Soekarno-sampai SBY, dan bahkan era Jokowi, tokoh Muhmamadiyah dan NU terlibat aktif dalam politik dan jabatan publik. Ada beberapa nama besar dari kalangan Muhammadiyah, misalnya Kiyai Faqih Usman (pernah menjadi menteri agama RIS/republik Indonesia Serikat),  Haji Rasjidi (meneteri Agama), KH. Achmad Asy’ary (menteri agma),  Abdul Malik fadjar (Muhammadiyah), Kiyai Ar Fachruddin, Amin Rais, Din Syamsuddin, sedangkn dari kalangan NU, seperti Kiyai Wahab Chasbullah (penasehat Soekarno), Kiyai Idcham Chalid (politisi ulung di Partai NU),  Kiyai Wachid Hasyim (ayahnya Gus Dur/ pernah jad menteri agama), Kiyai Saifuddin Zuhri (menetri agama, Ayah dari Lukman hakim Saifuddin), Kiyai Hasyim Muzadi, Gus Dur (pernah jadi presiden), Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama). belum lagi di era Jokowi. Anda bisa lihat tokoh-tokoh dari ormas tersebut memegang jabatan di republik ini.

 Figur-figur yang disebut di atas adalah para ulama’ dan cendikia dari NU dan Muhammadiyah yang masuk ke pusaran politik dan memegang jabatan penting di republik ini. Itu hanya sebagain tokoh saja. Masih banyak yang senagja tidak disebut, karena tokoh dari dua ormas itu terlalu banyak berperan dan berkontribusi di tingkat nasional bagi bangsa ini. Oleh karenanya, jangan heran kenapa Muhamadiyahdan NU menjadi organisasi yang maju. Memiliki banyak Universitas, pesantren, dan fasilitas pelayanan publik. 

Bahkan pengaruh kedua Ormas tersebut semakin meluas ke Lombok yang notabene rumah NW senndiri. Sekali lagi, ya karena mereka memegang jabatan politik dan kekuasaan di negeri ini.

Lalu kenapa ketika TGB mendapatkan momentum di pentas nasional kalian tidak mendukung? Kalian membiarkan beliau berjalan sendiri. Menempuh jalan panjang yang sunyi sendirian. Kalian lebih membela orang yang tidak kalian kenal. Orang yang tidak pernah kalian timba ilmunya. Orang yang sama sekali tak ada hubungan emosional dengan anda.

Mereka yang anda dukung adalah orang yang anda kenal hanyamelalui medi sosial, sementarTGB yang merupakan guru anda sendiri anad buang.

Mestinya kita sadar, bawa ketika TGB sukses di pentas nasional, maka beliau akan membabad alas bagi generasi Sasak dan NW menuju mobilitas pertikal untuk peran-peran yang lebih besar bagi agama dan bangsa di tingkat nasional. Satu-satunya yang kita punya dan sebagai wakil kita saat ini hanya TGB, tak ada yang lain. 

Maka sangat naif jika anda mengidolakan orang lain ketimbang TGB. TGB generasi emas Lombok. Dan melalui sepak terjang beliau hari ini di pentas nasional semoga beliau kelak menciptakan generasi-generasi emas pasca beliau.  Mari kita dukung ijtihad politik TGB. Jangan biarkan beliau sendirian.  Sasak bermartabat, NW kuat, dan mari berfastabiqul Khairat.

Penulis, santri dan murid TGB

error: Content is protected !!

Pin It on Pinterest

Shares
Share This